***
Pagi
datang menjelang. Satu persatu para siswa datang memasuki gerbang sekolah. Hawa
tidak begitu dingin, sebab hari cukup cerah. Krystal berjalan menelusuri
teras-teras kelas dalam langkah pasti. Hari itu dia cukup riang dan
bersemangat. Dari bibirnya terus terlempar semburat senyum manis, menandakan
yeoja itu bahagia. Krystal langsung memasuki kelasnya, menuju bangku tempat
duduknya. Tas penuh isi yang tergantung dibahuny, dia masukkan kedalam ruang
meja. Yeoja itu tak langsung keluar, melainkan dia duduk dibangku dan termenung
dalam senyum mengembang.
Dia
melamunkan kejadian nanti sore. Tentu akan sangat membahagiakan. Melihat
pameran lukisan bersama namja sekeren Taemin. Sambil tersenyum dalam lamunan,
beberapa kali dia menggelengkan kepala. Tanpa dia sadari sulli sudah berada
didekatnya. Yeoja itu berdiri terpaku memandangi sahabatnya dalam tatapan tidak
mengerti. Yang dia tahu krystal saat itu sedang melamun.
“Annyeongl!”
sapa sulli sambil menggoyangkan tubuh krystal.
“Ha?!”
cukup tersentak krystal karena hal itu.
“Ih…,
kamu! Ngerusak kebahagian orang saja. Coba kalau aku jantungan, ulah kamun itu
bisa-bisa membunuhku, tahu!”sambung krystal cukup ketus.
“mian.
Habisnya kamu sih, pagi-pagi udah ngelamun! Kamu tahu nggak, tadi aku ngeliat
kamu itu kaya orang gila.”
“Heh!! Apa nggak ada kata yang lebih baik dari kata
itu?!” sentak krystal tampak keberatan. “Menyebut orang yang nggak-nggak aja.”
“Duh,
marahnya…!”
“Nggak
lucu, tahu!”
Ne,
mian. Tapi…, bisa nggak aku tahu tadi kamu lagi ngelamunin apaan sih?
Kelihatannya bahagia banget!”
“Ah,
sudah! Kamu nggak perlu tahu!”
“Duh,
krystal..! please, deh!” rengek sulli meminta maaf.
“Aniyo!”
sambut krystal tetap ketus.
“Kryatal…!
Desah sulli mengeluh. “Ok. Berhubung nanti kan, giliran kamu neraktir aku. Tapi
bila kamu maafin aku dan cerita padaku, aku janji nanti aku yang teraktir kamu!
Gimana?”
Krystal
menolah kearah sulli. Senyum kini mengembang. “Janji…?”
“Ne,
aku janji!”
Setelah
mendengar kata terakhir sulli itu, krystal tiba-tiba terbahak-bahak. Suaranya
renyah terdengar. Menyaksikan tingkah krystal itu, sulli mengerutkan kening
tidak mengerti.
“Loh,
kok kamu ketawa sih?” Tanya sulli. “Apa ada yang lucu?”
“Nggak
ada yang lucu. Cuma kamu yang ketipu!”
“Maksud
kamu?”
“Tadi….,
tadi aku hanya berpura-pura, ha ha ha…,” Krystal masih tertawa. “Tapi…, gimana
pun kamu harus meneraktir aku nanti. Kamu kan sudah janji.
“Huh,
kamu nggak bisa mungkir! Ingat, janji itu adalah hutang!”
“Ne,
aku nanti mentraktir kamu! Puas!”
“Jangan
marah begitu dong…! Bila kamu marah terus, aku nggak akan cerita!”
“Eh…,
sebentar! Sebentar!” sahut sulli cepat. “Baik, aku nggak akan marah lagi/ ayo,
sekarang cerita…!”
“Tadi…,
aku lagi ngebayangin betapa indahnya suasana sore ini. Betapa indahnya jalan-jalan
melihat-lihat pameran lukisan bersama taemin…”
“Bersama
taemin?!” tampak cukup tersentak sulli. “Maksud kamu? Apa kamu udah ngajak
namja itu?”
“ne,
sull. Aku mengajak taemin menemani kita.”
“Kenapa
kamu mengajak Taemin?”
“Loh,
kok kamu bertanya begitu sih? Apa aku salah?”
Sulli
jadi terdiam. Dia menghela napas panjang. Kemudian yeoja itu berucap dengan
suara parau, “Aku nggak tahu lagi harus mengatakan apa padamu, Krys. Aku heran
banget sama kamu!”
“Apa
maksud kamu berkata begitu?’
“Kamu
memintaku agar membantu kamu untuk memperbaiki hubungan kamu dengan minho, tapi
ketika aku merasa sudah ada cara untuk memperbaikinya, kamu selalu merusak
semuanya.”
“Sebentar!
Aku masih belum mengerti!”
“Semalam
aku menelpon minho. Aku mengajaknya menemani kita nanti sore…”
“apa?!”
Krystal cukup tesentak mendengarnya. Kelopak matanya melebar. “Kenapa kamu
nggak bilang dulu padaku, akan mengajak minho? Apa dia setuju?”
“Suaranya
terdengar sungguh bersemangat menerima ajakan itu.”
“Duh…,
Gimana nih…!”
“Aku nggak
bisa lagi berbuat apa-apa, krys. Kini tergantung pada kamu.”
“Apa kamu
bilang?!” sekarang kamu pingin lepas tangan?!”
“Bukan
begitu. Tapi coba kasih tahu, aku harus melakukan apa lagi..!”
“Ne…,
kamu juga harus memikrkannya…”
Bel tanda pelajaran hari itu akan
dimulai akhirnya berdentam. Para siswa dan siswi mulai memasuki kelas
masing-masing, tak ketinggalan teman-teman sekelas krystal dan sulli.
Perbincangan mereka jadi terhenti karena keriuahan kelas ulah para murid.
Krystal dan sulli terdiam. Mereka tampak berpikir, harus berbuat apa…
***
Suasan
kantin selalu saja ramai bila waktu istirahat tiba. Mereka mengambil tempat
dipojok kantin. Kebisuan masih menyelimuti mereka. Krystal dan tutik terus
berpikir.
“Sulli…!”
sahut krystal memecahkan kebisuan itu. “Gimana bila kita batalin aja?”
“Nggak
bisa. Kapan lagi kita bisa mendapatkan kesempatan melihat-lihat pameran
lukisan. Pokoknya nggak!”
Kedua
yeoja itu kembali diam membisu.
Pramusaji kantin datang membawa
pesanan mereka. Krystal dan sulli segera meraih gelas yang sudah dipenuhi jus
jeruk, meneguknya.
“Annyeong,….!
Aku cari kemana-mana, rupanya kamu disini..”
Karena
ucapan itu, krystal dan sulli berehenti menikmati makanan. Mereka meneguk
kembali jus jeruk. Lalu perhatian mereka tertuju pada asal suara. Kedua yeoja
itu langsung mengerutkan kening mereka tidak suka, begitu tahu siswa yang
menyapanya siapa. Rupanya itu key siswa yang terkenal badung, diringi onew.
“Aku
rasa kami nggak punya urusan dengan kamu…,” sambut krystal
“Kita
memang nggak punya urusan. Tapi sebentar lagi kita pasti akan punya urusan.”
“Kamu
kira kami mau berurusan dengan kamu?!” sulli agak menyentak. “Lebih baik kamu
pergi!”
“Tenanglah,
cantik..! jangan marah dulu! Kamu tahukan, orang yang suka marah itu cepat
tua?”
“Heh!
Apa peduli kamu?” sergah sulli.
‘Tentu
aku sangat peduli. Cukup disayangkan kan, kecantikan kamu itu?”
“Ah,
sudahlah! Lebih baik segera katakana apa maksud kamu. Kemudian segera kalian
pergi! Kami nggak tahan dengan tampang kalian itu.”
“Baik.
Aku mencari-cari kalian atas permintaan jonghyun.”
“Jonghyun?”
ulang krystal dan sulli serempak. Mereka cukup mengenal siapa sosok namja yang
disebutkan itu. Sosok namja yang merupakan pimpinan gang disekolah. Sebenarnya
sih, namja itu cukup tampan, tapi sayang play boy kelas teri. Senengnya nyakiti
hati yeoja-yeoja, meski mengaku belum pernah melecehkan yeoja.
“jonghyun
mau apa mencari kami?” lanjut krystal
“Malam
minggu besok, ulang tahun jonghyun. Dia sangat mengharapkan kalian datang.”
“Apa
alasanya kami harus datang?” Selidik sulli.
“Ne….
kalau hal itu, kami nggak tahu. Dia hanya bilang, ingin membuat kalian senang…”
“Heh!
Bila hanya kepingin senang, kami nggak perlu repot-repot hadirin pesta bos
kalian itu, tahu!” dengus sulli menyentak. “Kalian lebih baik pergi, sebelum
aku kehabisan kesabaran!”
“Kalau
kalian habis kesabaran, memangnya kalian mau apa? Apa mau menampar, atau pingin
berkelahi dengan kami? Hi hi hi…” Ledek Key.
Krystal
meraih mangkuk yang masih berisi makanan. Yeoja itu lalu berdiri dan menuangkannya
dikepala key.
Seketika
namja badung itu mengepalkan tangan, hendak menghantam wajah krystal dengan
tinjuan. Tapi sayang, dengan cepat minho yang baru datang menangkap dan
menahannya. Secepat kilat tinjuan minho meleset memukul muka key. mulanya key
dan temannya (Onew) berniat untuk melawan, namun setelah mereka tahu itu adalah
minho segera niat itu ditelannya mentah-mentah. Mereka tentu tidak mau babak
belur. Mereka sungguh mengenal siapa minho. Seorang namja pendiam, tapi
memiliki tersimpan kekuatan dasyat. Minho itu mereka tahu seorang juara karate.
Makanya, key dan onew segera pergi dari tempat itu.
“Gwenchana?”
Minho mengamati seraut wajah krystal sambil kedua tangannya memegangi dagu dan
menggerak-geraki kepala yeoja itu. Minho tampak khawatir. Dia tidak ingin
krystal tersakiti. Lalu kedua tanganya memegangi kedua bahu krystal. Tangan
krystal diamati dengan cermat, tak ingin tangan yeoja itu terluka walau
segores. Sementara krystal menatap wajahnya lekat. Baru ketika tatapan mereka
beradu, segera minho menarik tangannya dari bahu krystal. “Oh, maaf…!”
Keduanya
lalu duduk, terpusat pada satu meja, dan membisu malu-malu. Sementara sulli
tersenyum tipis menyaksikan tingkah kedua sahabatnya itu. Senyumnya yang
terlahir lepas, sebab ada kebahagian yang merasuk dihati. Sulli senang melihat
kedua sahabatnya berakting mesra. Lebih-lebih dia ingin memperbaiki hubungan
mereka.
“Hm…,
gimana, Krystal?” Ucap minho akhirnya.
“Gimana
apanya?” Balas krystal.
“Acara
nanti sore jadi kan?”
“Hm…,”
krystal tak mampu member jawaban apa-apa. Yeoja itu menatap sulli.
“Kenapa
kamu menatapku?”
Di
saat itulah, Taemin datang dengan wajah riang, seraya berucap, “Rupanya kamu
disini krystal. Pantas kucari kemana-mana nggak ada. O ya, nanti sore kita jadi
kan lihat pameran lukisan? Duh…, aku udah nggak sabar pingin jalan-jalan sama
kamu.”
Krystal
membelalakan mata mendengar hal itu. Sekilas ia ingin menoleh kearah minho,
tapi dia urungkan sebab tak kuat mendapati raut wajah namja itu tak tenang. Dan
memang benar. Wajah minho saat itu mengerut, sebab hati diseulut api cemburu.
Ada kemarahan bersarang dilubuk batinya disertai rasa tidak suka. Hal demikian
terjadi pula pada sulli.
“kenapa
wajah kalian seperti itu?” Tanya taemin heran. “Kalian baik-baik saja kan?”
Pertanyaan
itu direspon minho dengan berdiri, lalu tanpa basa-basi dia hendak berlalu
pergi. Krystal semula hanya menatap tubuh minho yang berjalan menuju pintu
keluar kantin dalam perasaan tak enak. Yeoja itu tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi entah ada apa, minho tiba-tiba berbalik arah, dan melangkah kembali
mendekati krystal, sulli dan minho, yang masih memerangkap tubuhnya dalam
tatapan tidak enak. Sesampainya ditempatnya tadi berdiri, sejenak minho
terdiam. Baru setelah sekali menarik napas, dia berkata, “Hm…, nanti sore…, aku
ikut dengan kalian. Mian, tadi aku sebenarnya pingin ketoilet. Kuharap kalian
jangan tersinggung ya!”
Krystal
tersenyum bahagia mendengar ucapan itu. “Kamu juga ikut, minho?” Sambut taemin
dengan sorot mata berbinar-binar. “Wah.., nanti sore pasti bakalan seru.”
“Maksud
kamu apa bertanya begitu?” Tanya sulli ingin tahu apa alasan namja itu berkata
sambil memandangi dirinyanya.
“Apa
kamu bilang?”
“Sudah!
Sudah!” Ucap krystal. “Masalhnya sekarangkan sudah clear, jadi…, jangan buat keruh
lagi. Lebih baik sekarang mari sepakati, di mana kira-kira tempat yang enak
untuk kita ketemuan nanti?”
Keempat
anak muda itu langsung terdiam. Tapi kebisuan minho bukan memikirkan tempat
untuk bertemu nanti, melainkan dia diam karena memikirkan hal lain. Dan itu
menyangkut perasaan hati. Kamu benar, krystal. Desah batin minho. Bagimu,
masalah memang sudah jelas. Sudah selesai, tapi kamu nggak pernah mau tahu
kekeruhan hatiku. Kamu memang benar. Hoh…, tapi biarlah. Aku akan terus
berusaha tersenyum. Meski kurasa senyum itu terakhir sampai membuat aku nggak
tahan lagi siapa diriku. Aku berusaha bahagia melihat kebahagiaanmu…
“Gimana
bila ditaman kota saja” kata taemin
“Taman
kota?’ Sambut krystal dan sulli serempak.
“Baiklah…,
nanti kita ketemuan ditaman kota.” Putus krystal. “Ingat…, ketemuannya nanti
harus jam setengah empat, sebab acaranya akan dimulai jam empat. Biar tidak
telat!”
Mereka
akhirnya sepakat. Kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan kantin, sebab bel
tanda masuk kelas bordering.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar