Sabtu, 09 Maret 2013

FF/Sorry I love You/Chapter 3


***

          Pagi datang menjelang. Satu persatu para siswa datang memasuki gerbang sekolah. Hawa tidak begitu dingin, sebab hari cukup cerah. Krystal berjalan menelusuri teras-teras kelas dalam langkah pasti. Hari itu dia cukup riang dan bersemangat. Dari bibirnya terus terlempar semburat senyum manis, menandakan yeoja itu bahagia. Krystal langsung memasuki kelasnya, menuju bangku tempat duduknya. Tas penuh isi yang tergantung dibahuny, dia masukkan kedalam ruang meja. Yeoja itu tak langsung keluar, melainkan dia duduk dibangku dan termenung dalam senyum mengembang.
          Dia melamunkan kejadian nanti sore. Tentu akan sangat membahagiakan. Melihat pameran lukisan bersama namja sekeren Taemin. Sambil tersenyum dalam lamunan, beberapa kali dia menggelengkan kepala. Tanpa dia sadari sulli sudah berada didekatnya. Yeoja itu berdiri terpaku memandangi sahabatnya dalam tatapan tidak mengerti. Yang dia tahu krystal saat itu sedang melamun.
          “Annyeongl!” sapa sulli sambil menggoyangkan tubuh krystal.
          “Ha?!” cukup tersentak krystal karena hal itu.
          “Ih…, kamu! Ngerusak kebahagian orang saja. Coba kalau aku jantungan, ulah kamun itu bisa-bisa membunuhku, tahu!”sambung krystal cukup ketus.
          “mian. Habisnya kamu sih, pagi-pagi udah ngelamun! Kamu tahu nggak, tadi aku ngeliat kamu itu kaya orang gila.”
          “Heh!!  Apa nggak ada kata yang lebih baik dari kata itu?!” sentak krystal tampak keberatan. “Menyebut orang yang nggak-nggak aja.”
          “Duh, marahnya…!”
          “Nggak lucu, tahu!”
          Ne, mian. Tapi…, bisa nggak aku tahu tadi kamu lagi ngelamunin apaan sih? Kelihatannya bahagia banget!”
          “Ah, sudah! Kamu nggak perlu tahu!”
          “Duh, krystal..! please, deh!” rengek sulli meminta maaf.
          “Aniyo!” sambut krystal tetap ketus.
          “Kryatal…! Desah sulli mengeluh. “Ok. Berhubung nanti kan, giliran kamu neraktir aku. Tapi bila kamu maafin aku dan cerita padaku, aku janji nanti aku yang teraktir kamu! Gimana?”
          Krystal menolah kearah sulli. Senyum kini mengembang. “Janji…?”
          “Ne, aku janji!”
          Setelah mendengar kata terakhir sulli itu, krystal tiba-tiba terbahak-bahak. Suaranya renyah terdengar. Menyaksikan tingkah krystal itu, sulli mengerutkan kening tidak mengerti.
          “Loh, kok kamu ketawa sih?” Tanya sulli. “Apa ada yang lucu?”
          “Nggak ada yang lucu. Cuma kamu yang ketipu!”
          “Maksud kamu?”
          “Tadi…., tadi aku hanya berpura-pura, ha ha ha…,” Krystal masih tertawa. “Tapi…, gimana pun kamu harus meneraktir aku nanti. Kamu kan sudah janji.
          “Huh, kamu nggak bisa mungkir! Ingat, janji itu adalah hutang!”
          “Ne, aku nanti mentraktir kamu! Puas!”
          “Jangan marah begitu dong…! Bila kamu marah terus, aku nggak akan cerita!”
          “Eh…, sebentar! Sebentar!” sahut sulli cepat. “Baik, aku nggak akan marah lagi/ ayo, sekarang cerita…!”
          “Tadi…, aku lagi ngebayangin betapa indahnya suasana sore ini. Betapa indahnya jalan-jalan melihat-lihat pameran lukisan bersama taemin…”
          “Bersama taemin?!” tampak cukup tersentak sulli. “Maksud kamu? Apa kamu udah ngajak namja itu?”
          “ne, sull. Aku mengajak taemin menemani kita.”
          “Kenapa kamu mengajak Taemin?”
          “Loh, kok kamu bertanya begitu sih? Apa aku salah?”
          Sulli jadi terdiam. Dia menghela napas panjang. Kemudian yeoja itu berucap dengan suara parau, “Aku nggak tahu lagi harus mengatakan apa padamu, Krys. Aku heran banget sama kamu!”
          “Apa maksud kamu berkata begitu?’
          “Kamu memintaku agar membantu kamu untuk memperbaiki hubungan kamu dengan minho, tapi ketika aku merasa sudah ada cara untuk memperbaikinya, kamu selalu merusak semuanya.”
          “Sebentar! Aku masih belum mengerti!”
          “Semalam aku menelpon minho. Aku mengajaknya menemani kita nanti sore…”
          “apa?!” Krystal cukup tesentak mendengarnya. Kelopak matanya melebar. “Kenapa kamu nggak bilang dulu padaku, akan mengajak minho? Apa dia setuju?”
          “Suaranya terdengar sungguh bersemangat menerima ajakan itu.”
          “Duh…, Gimana nih…!”
“Aku nggak bisa lagi berbuat apa-apa, krys. Kini tergantung pada kamu.”
“Apa kamu bilang?!” sekarang kamu pingin lepas tangan?!”
“Bukan begitu. Tapi coba kasih tahu, aku harus melakukan apa lagi..!”
“Ne…, kamu juga harus memikrkannya…”
          Bel tanda pelajaran hari itu akan dimulai akhirnya berdentam. Para siswa dan siswi mulai memasuki kelas masing-masing, tak ketinggalan teman-teman sekelas krystal dan sulli. Perbincangan mereka jadi terhenti karena keriuahan kelas ulah para murid. Krystal dan sulli terdiam. Mereka tampak berpikir, harus berbuat apa…
***
          Suasan kantin selalu saja ramai bila waktu istirahat tiba. Mereka mengambil tempat dipojok kantin. Kebisuan masih menyelimuti mereka. Krystal dan tutik terus berpikir.
          “Sulli…!” sahut krystal memecahkan kebisuan itu. “Gimana bila kita batalin aja?”
          “Nggak bisa. Kapan lagi kita bisa mendapatkan kesempatan melihat-lihat pameran lukisan. Pokoknya nggak!”
          Kedua yeoja itu kembali diam membisu.
Pramusaji kantin datang membawa pesanan mereka. Krystal dan sulli segera meraih gelas yang sudah dipenuhi jus jeruk, meneguknya.
          “Annyeong,….! Aku cari kemana-mana, rupanya kamu disini..”
          Karena ucapan itu, krystal dan sulli berehenti menikmati makanan. Mereka meneguk kembali jus jeruk. Lalu perhatian mereka tertuju pada asal suara. Kedua yeoja itu langsung mengerutkan kening mereka tidak suka, begitu tahu siswa yang menyapanya siapa. Rupanya itu key siswa yang terkenal badung, diringi onew.
          “Aku rasa kami nggak punya urusan dengan kamu…,” sambut krystal
          “Kita memang nggak punya urusan. Tapi sebentar lagi kita pasti akan punya urusan.”
          “Kamu kira kami mau berurusan dengan kamu?!” sulli agak menyentak. “Lebih baik kamu pergi!”
          “Tenanglah, cantik..! jangan marah dulu! Kamu tahukan, orang yang suka marah itu cepat tua?”
          “Heh! Apa peduli kamu?” sergah sulli.
          ‘Tentu aku sangat peduli. Cukup disayangkan kan, kecantikan kamu itu?”
          “Ah, sudahlah! Lebih baik segera katakana apa maksud kamu. Kemudian segera kalian pergi! Kami nggak tahan dengan tampang kalian itu.”
          “Baik. Aku mencari-cari kalian atas permintaan jonghyun.”
          “Jonghyun?” ulang krystal dan sulli serempak. Mereka cukup mengenal siapa sosok namja yang disebutkan itu. Sosok namja yang merupakan pimpinan gang disekolah. Sebenarnya sih, namja itu cukup tampan, tapi sayang play boy kelas teri. Senengnya nyakiti hati yeoja-yeoja, meski mengaku belum pernah melecehkan yeoja.
          “jonghyun mau apa mencari kami?” lanjut krystal
          “Malam minggu besok, ulang tahun jonghyun. Dia sangat mengharapkan kalian datang.”
          “Apa alasanya kami harus datang?” Selidik sulli.
          “Ne…. kalau hal itu, kami nggak tahu. Dia hanya bilang, ingin membuat kalian senang…”
          “Heh! Bila hanya kepingin senang, kami nggak perlu repot-repot hadirin pesta bos kalian itu, tahu!” dengus sulli menyentak. “Kalian lebih baik pergi, sebelum aku kehabisan kesabaran!”
          “Kalau kalian habis kesabaran, memangnya kalian mau apa? Apa mau menampar, atau pingin berkelahi dengan kami? Hi hi hi…” Ledek Key.
          Krystal meraih mangkuk yang masih berisi makanan. Yeoja itu lalu berdiri dan menuangkannya dikepala key.
          Seketika namja badung itu mengepalkan tangan, hendak menghantam wajah krystal dengan tinjuan. Tapi sayang, dengan cepat minho yang baru datang menangkap dan menahannya. Secepat kilat tinjuan minho meleset memukul muka key. mulanya key dan temannya (Onew) berniat untuk melawan, namun setelah mereka tahu itu adalah minho segera niat itu ditelannya mentah-mentah. Mereka tentu tidak mau babak belur. Mereka sungguh mengenal siapa minho. Seorang namja pendiam, tapi memiliki tersimpan kekuatan dasyat. Minho itu mereka tahu seorang juara karate. Makanya, key dan onew segera pergi dari tempat itu.
          “Gwenchana?” Minho mengamati seraut wajah krystal sambil kedua tangannya memegangi dagu dan menggerak-geraki kepala yeoja itu. Minho tampak khawatir. Dia tidak ingin krystal tersakiti. Lalu kedua tanganya memegangi kedua bahu krystal. Tangan krystal diamati dengan cermat, tak ingin tangan yeoja itu terluka walau segores. Sementara krystal menatap wajahnya lekat. Baru ketika tatapan mereka beradu, segera minho menarik tangannya dari bahu krystal. “Oh, maaf…!”
          Keduanya lalu duduk, terpusat pada satu meja, dan membisu malu-malu. Sementara sulli tersenyum tipis menyaksikan tingkah kedua sahabatnya itu. Senyumnya yang terlahir lepas, sebab ada kebahagian yang merasuk dihati. Sulli senang melihat kedua sahabatnya berakting mesra. Lebih-lebih dia ingin memperbaiki hubungan mereka.
          “Hm…, gimana, Krystal?” Ucap minho akhirnya.
          “Gimana apanya?” Balas krystal.
          “Acara nanti sore jadi kan?”
          “Hm…,” krystal tak mampu member jawaban apa-apa. Yeoja itu menatap sulli.
          “Kenapa kamu menatapku?”
          Di saat itulah, Taemin datang dengan wajah riang, seraya berucap, “Rupanya kamu disini krystal. Pantas kucari kemana-mana nggak ada. O ya, nanti sore kita jadi kan lihat pameran lukisan? Duh…, aku udah nggak sabar pingin jalan-jalan sama kamu.”
          Krystal membelalakan mata mendengar hal itu. Sekilas ia ingin menoleh kearah minho, tapi dia urungkan sebab tak kuat mendapati raut wajah namja itu tak tenang. Dan memang benar. Wajah minho saat itu mengerut, sebab hati diseulut api cemburu. Ada kemarahan bersarang dilubuk batinya disertai rasa tidak suka. Hal demikian terjadi pula pada sulli.
          “kenapa wajah kalian seperti itu?” Tanya taemin heran. “Kalian baik-baik saja kan?”
          Pertanyaan itu direspon minho dengan berdiri, lalu tanpa basa-basi dia hendak berlalu pergi. Krystal semula hanya menatap tubuh minho yang berjalan menuju pintu keluar kantin dalam perasaan tak enak. Yeoja itu tidak tahu harus berbuat apa. Tapi entah ada apa, minho tiba-tiba berbalik arah, dan melangkah kembali mendekati krystal, sulli dan minho, yang masih memerangkap tubuhnya dalam tatapan tidak enak. Sesampainya ditempatnya tadi berdiri, sejenak minho terdiam. Baru setelah sekali menarik napas, dia berkata, “Hm…, nanti sore…, aku ikut dengan kalian. Mian, tadi aku sebenarnya pingin ketoilet. Kuharap kalian jangan tersinggung ya!”
          Krystal tersenyum bahagia mendengar ucapan itu. “Kamu juga ikut, minho?” Sambut taemin dengan sorot mata berbinar-binar. “Wah.., nanti sore pasti bakalan seru.”
          “Maksud kamu apa bertanya begitu?” Tanya sulli ingin tahu apa alasan namja itu berkata sambil memandangi dirinyanya.
          “Apa kamu bilang?”
          “Sudah! Sudah!” Ucap krystal. “Masalhnya sekarangkan sudah clear, jadi…, jangan buat keruh lagi. Lebih baik sekarang mari sepakati, di mana kira-kira tempat yang enak untuk kita ketemuan nanti?”
          Keempat anak muda itu langsung terdiam. Tapi kebisuan minho bukan memikirkan tempat untuk bertemu nanti, melainkan dia diam karena memikirkan hal lain. Dan itu menyangkut perasaan hati. Kamu benar, krystal. Desah batin minho. Bagimu, masalah memang sudah jelas. Sudah selesai, tapi kamu nggak pernah mau tahu kekeruhan hatiku. Kamu memang benar. Hoh…, tapi biarlah. Aku akan terus berusaha tersenyum. Meski kurasa senyum itu terakhir sampai membuat aku nggak tahan lagi siapa diriku. Aku berusaha bahagia melihat kebahagiaanmu…
          “Gimana bila ditaman kota saja” kata taemin
          “Taman kota?’ Sambut krystal dan sulli serempak.
          “Baiklah…, nanti kita ketemuan ditaman kota.” Putus krystal. “Ingat…, ketemuannya nanti harus jam setengah empat, sebab acaranya akan dimulai jam empat. Biar tidak telat!”
          Mereka akhirnya sepakat. Kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan kantin, sebab bel tanda masuk kelas bordering.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar