Sabtu, 09 Maret 2013

FF/Sorry I love You/Chapter 2

***



          Krystal melangkah sendiri pulang sekolah. Terlihat langkahnya berat. Kepalanya juga sedikit menunduk. Entah, ada apa. Tapi di otaknya, bayangan minho terus melekat. Krystal sungguh sedih. Sudah dua hari minho terus mengindar darinya. Dan selama itu juga dia tidak pernah bertemu dengan namja itu. Hoh…! Keluh batinnya. Itu sungguh menyedihkan!
          Krystal kini mengangkat muka. Dia memandang kedepan. Kesenduan sejenak hilang. Berganti senyum mengembang. Saat-saat membahagiakan bersama minho perlahan berdatangan menguasai alam pikirannya. Diingatnya ketika pemuda itu bersenda gurau dengannya. Penuh canda tawa. Krystal juga mengingat ketika minho tanpa sungkan-sungkan mengandeng tangannya. Itu terjadi saat kelas mereka bersama-sama melakukan study tour, mencari inspirasi menulis puisi. Bahkan minho sampai menciumnya meski hanya dipipi. Itu dilakukan minho untuk member semangat karena puisi krystal terpilih sebagai puisi terbaik. Tapi itu sudah berlalu. Krystal menghela napas berat.
          Ketika krystal menjejaki trotoar rindang di areal taman kota, langkahnya seketika terhenti. Dipinggir taman dibawah sebuah pohon rindang, dilihatnya minho duduk bersandar. Pinggir taman itu juga jalur lurus trotoar yang akan dilewati krystal. Sebab itu krystal jadi tak tahu harus bagaimana. Melanjutkan perjalanan, dia merasa tidak enak bertemu dengan minho. Tapi sesat kemudian akhirnya krystal melangkah. Bagaimanapun juga dia harus bertemu dengan minho. Hubungan itu harus diperbaiki, tekadnya.
          Di samping minho terduduk, krystal berdiri tepaku dan membisu. Minho sama sekali tidak sadar atas kedatangannya. Dia terus menatap tajam kedepa. Membisu. Hanya napasnya terdengar mendesah.
          “minho…!” ucap krystal lirih.
          Mendengar sebuah suara lembut memanggilnya, minhoo langsung menoleh. Pertama kali yang dia lihat hanya sepasang betis halus. Hingga seraut wajah manis ditemukannya sudah menatap kearahnya sambil tersenyum manis. Minho segera berdiri. Lalu dalam malu-malu ia berucap pendek, “Annyeong..!”
          “apa aku mengganggumu?”
          “ah, aniyo.”
          Krystal kembali tersenyum. Dilihatnya minho melayangkan pandanganya ketempat lain. Krystal merasa tak nyaman. Mau berucap tapi setiap kata yang hendak diucapkan rasanya selalu tak enak. Gadis itu terdiam jadinya.
          Karena hal itu, minho perlahan menggerakan kepalanya untuk memandang krystal. Tapi ketika mereka saling berpandangan, minho jadi salah tingkah. Selalu senyum tersipu, tapi terasa tidak enak dilakukan. Makanya, minho memutuskan berucap, “kamu mau pulang, ya?”
          Krystal tak langsung menjawab. Gadis itu malah melayangkan senyum sambil mengerutkan kening. Lalu katanya. “apa aku harus menjawab?”
          “ups, pertanyaanku bodoh banget!” minho salah tingkah. “O ya, apa kamu merasa hari ini panas banget?”
          “ne, hari ini memang panas!” balas krystal. Tapi dia tidak mengerti kenapa minho harus menanyakan itu. “Boleh aku tahu kenapa kamu bertanya seperti itu?”
          “Kubelikan es crem, ya?”
          “Hmm…, aku rasa itu bukan tawaran yang buruk, boleh juga.”
          “Baiklah. Kamu tunggu disini. Aku ketoko diseberang jalan itu dulu, aku harap kamu nggak kemana-mana sebelum aku kembali…!”
          Krystal mengangguk pelan. Dia tetap tersenyum sambil tatapan matanya terus mengikuti langkah minho.
          Selepas minho pergi, dari arah trotoar yang dilewati krystal tadi, taemin datang. Memandangi krystal duduk, taemin tersenyum. Namja itu tampak bahagia.
          “krystal …!” panggilnya begitu berada di samping tempat yeoja itu duduk.
          Krystal seketika menoleh. Seraut wajah tampan lengkap dengan senyum manis menyambut tatapannya. Krystal mau tidak mau membalas tersenyum. “Kau…?”
          “Aku yakin, kau disini menungguku kan?’
          “apa kamu bilang?!’ krystal tampak cukup keberatan. “Kamu pikir diri kamu itu orang penting apa?!” ge’er banget!”
          “mianhae, tadi aku Cuma bercanda kok, kuakui bukan kamu yang menunggu aku, tapi aku dari gerbang sekolah tadi terus mengejar kamu.”
          “kamu mengejar aku? Buat apa?”
          “mianhae atas kejadian dua hari kemarin..”
          “makanya jangan sok akrab! Ketemu saja belum pernah, kok ngaku-ngaku pacar.”
          “ne, aku mengaku salah. Tapi setidaknya semua yang aku sebutkan tentang diri kamu itu benar kan?”
          Krystal terdiam. Ditatapnya namja tampan yang kini sudah duduk disampingnya itu dalam sorotan mata kejam. Benar juga kata teman-teman , namja ini tampan banget!” batinnya mengaku
          “kumuhon….! Jangan marah karena tingkah ku yang sok kenal kamu itu ya. Please!”
          “siapa yang marah!”
          “jadi…, kamu nggak marah?” duga taemin. “tapi kenapa kamu menatapku seperti itu?”
          Belum sempat krystal menjawab pertanyaannya itu, perhatian keduanya lebih dulu terusik karena lirik lagu yang dinyanyikan dengan riang dari kejauhan oleh minho. Keduanya langsung tersenyum melihat namja itu menuju kearah mereka.
          Langkah minho tiba-tiba terhenti saat matanya menangkap ada namja lain duduk bersama krystal. Namja itu cukup dia kenal. Tidak salah lagi. Itu Taemin, siswa baru yang sekelas dengannya. Kelopak matanya melebar, sampai-sampai kedua bola matanya sedikit menjorok keluar. Minho jadi bingung harus bagaimana. Dia terpaku dan membisu. Sementara direlung hatinya mulai merasuk api cemburu. Terasa terus menyulut hingga dia tidak tahan menyaksikan namja itu. Tapi sungguh disayangkan, disaat seperti itu dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya tak terhenti-henti mendesak agar dia langsung pergi saja, namun setelah dipikir-pikir hal itu sangat sulit dilakukan. Disana ada krystal. Tentu dia tidak mau mereka tahu, akhirnya, dalam langkah berat minho memutuskan untuk menghampiri keduanya.
          “kamu memang teman yang baik, minho.” Puji taemin menyambut kedatangannya. “es crem ini untuk kami berdua kan?”
          “ne.. kamu benar, taemin.” Desah minho. Dia segera menyodorkan es crem yang dibawanya tadi kearah krystal dan taemin.
          Taemin langsung meraih es crem itu dengan sigap, sementara krystal menolaknya.
          ‘”ahh, aniyo. Minho. Kalau itu untukku, kamu mana?” kata krystal.
          “Sudah tadi ditoko. Bahkan dua bungkus!”
          “Kamu nggak bohongkan?”
          “Loh, kok kamu bertanya begitu sih?” baiklah coba diingat-ingat, apa aku pernah membohongimu?”
          “sudahlah, krystal..!” bujuk taemin di sela-sela menikmati ec crem. “Ambil saja! Minho itu sahabat yang baik. Aku yakin dia nggak akan bohong.”
          Minho tersenyum kecil sambil menatap krystal. Dia mengangguk pelan, member isyarat agar krystal menerima es crem yang dia sodorkan. Akhirnya, krystal menerimany. Tapi dihatinya ada perasaan tidak enak. Krystal saat itu bagai tahu apa yang sebenarnya sedang bergelut dihati namja itu.
          Kristal…” desah taemin. “kamu tahu nggak minho-lah yang memberitahuku tentang dirimu itu. Dia mengatakan, kamu itu sungguh menganggumkan! Mulanya aku nggak percaya. Aku nggak yakin bila ada sosok yeoja sesempurna seperti yang disebut-sebut minho itu. Tapi setelah aku mengenalmu, aku baru sadar dan percaya. kamu memang yeoja yang mengagumkan! Jujur kuakui, aku tertari padamu..”
          ”taemin!” kata krystal agak menyentak. “kamu ngomong apaan sih?”
          Sementara minho tetap bungkam. Hanya hatinya yang terus berteriak dan berontak.
          “mian, krystal, aku hanya ingin jujur saja. Benar aku sungguh tertarik padamu!”
          “ah, sudahlah! Aku nggak mau ngomongin hal yang nggak-nggak.”
          “nggak-nggak gimana maksud kamu, krystal?” cecar taemin.
          “mian,” ucap minho cepat, mendahului krystal. Minho yang duduk disamping kiri krystal, kini bangkit. “kayaknya aku harus duluan deh!”
          Krystal segera mendongak menatap tajam mata minho, krystal memang sedang sensitive.
          “kenapa harus terburu-buru?” Tanya krystal agak ketus.
          Minho melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
          “Mian, aku harus segera sampai dirumah!” tutur minho sambil langsung melangkah terburu-buru tidak menghiraukan teguran taemin dan krystal. Minho berjalan dalam perasaan yang terluka.
          “kira-kira minho kenapa ya?” desah taemin lirih. Matanya terus mengikuti langkah minho pergi.
          “mian, taemin. Aku juga harus segera tiba dirumah.” Ucap krystal tiba-tiba. Belum sempat taemin menanggapinya, krystal sudah bangkit dan melangkah tergesa-gesa.
          Menyaksikan semua itu, taemin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mengerti.
***
          Minho menarik napas dalam-dalam berusaha melenyapkan rasa gundah yang bersarang di hatinya. Seketika ia bangkit lalu melangkah menghampiri jendela. Cukup pelan tangannya mendorong daun jendela, membukanya. Angin masih terasa berdebu langsung menyambut. Tapi halus angin itu menerpanya di sela-sela daun telinga angin terdengar mendesir, dan mengibas rambutnya yang lurus. Perlahan sorotan matanya terlayang menyapa sekeliling luar rumah. Dan lampu taman rumah ternyata sungguh menarik perhatiannya. Seolah pada pijaran cahaya lampu, jelas terlihat seraut wajah manis krystal. Saat itu minho mencoba mencari ketenanga.
          Tanpa terasa angan telah terbang membawa alam sadarnya. Diingatnya saat dirinya bergembira ria bersama krystal . dia mengingat sejak pertama kali mereka bertemu. Itu terjadi satu setengah tahun yang lalu. Tapi yang paling mengesankan ketika merreka study tour. Saat itu minho mencium krystal. Sungguh kejadian yang membahagiakan. Juga pertama kali dia alami dan mulai saat itu, dia merasa benar-benar telah jatuh cinta pada krystal.
          Minho tersenyum sesat. Perlahan dia mendongakan kepala, menatap langit malam yang cerah. Sayang sekali malam itu bukan malam bulan purnama, hingga yang tampak hanya bintang-bintang yang berkedip-kedip.cukup lekat namja itu menyorot, seakan disana tujuan hatinya terlukis kekal. Sementara desah napasnya yang halus penuh perasaan terus menghiasi malam yang semakin sunyi. Bagaikan hendak mengaduka segenap rasa luka yang sedang bersarang di seluruh relung hatinya pada kesunyian malam dan benda-benda langit itu. Minho berusaha menenangkan diri dari suasana patah hati.
          HP-nya meandering tiba-tiba. Bunyi deringan itu seketika memecahkan kesunyian dan kebisuan suasana. Karena hal itu, minho cukup tersentak. Kemudian segera dia beranjak dari jendela, menuju meja tempat Hpnya tergeletak.
          “yoboseo…, ini siapa?”
          “Aku, minho. Sulli”
           “eee.., kamu rupanya. Ada apa?”
          “aku dan krystal akan melihat – lihat pameran lukisan di gedung kesenian besok. Apa kamu bisa ikut menemani kami?’
          “Hmm, jam berapa?”
          “Acaranya akan dimulai jam empat sore, tapi kita berangkat tiga puluh menit sebelum waktu itu. Kamu bisa kan?”
          “ne. Aku bisa.”
          “baiklah. Sampai besokya. Bila pingin tahu lebih lanjut, besok kita bicarakan disekolah. O ya, cepat tidur! Yakinlah sang bidadari alias krystal pasti hadir dalam mimpimu. Selamat bermimpi basah, hehehe!” setelah mengucapkan itu, suara sulli tidak terdengar lagi.
          “Gomawo, sahabat!” ucap minho setelah sejenak tertegun. “aku juga terus mengharapkan hal itu…”
          Kemudian minho kembali menaruh Hpnya di meja. Dia melangkah menuju jendela. Jendela langsung ditutup pelan, lalu dia bergegas menghampiri ranjang. Didekat ranjang baru dia sadar betapa pegal sekujur tubuhnya. Minho merebah, terlentang memeluk bantal. Tidak beberapa lama kemudian, namja itu akhirnya menutup mata.
***
Sementara itu didalam kamarnya, krystal ternyata tidak bisa tidur. Setiap kali dia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah minho terus saja mengampirinya. Dikesunyian malam itu, dirinya bagai merasa namja itu mendatanginya. Terus menarik-narik selimutnya saat dia menutup sekujur tubuhnya. Krystal memeluk bantal guling. Mulanya rasa bersalah datang merasuki, tapikini mulai ada kerinduan yang menyelimuti. Namun semua itu lenyap dalam sekejap saat bayangan wajah taemin berdatangan.
          Tetap saja yeoja itu resah dan gelisah. Kegundahan itu tampak dari sekujt tubuhnya tang tak bisa diam merebah dikasur. Kedua wajah namja itu kini seakan masing-masing menguasai dirinya. Krystal mencoba membandingkan keduanya. Tapi ternyata sungguh sulit dia mendapatkan suatu keputusan, siapa salah satu yang lebih dari mereka. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing, siapa yang harus dipilih?
          “Hoh…!” desah krystal. “Aku harus bagaimana?” cinta minho padaku sungguh besar. tidak usah diragukan lagi ketulusannya. Tapi aku heran, kenapa sih aku nggak bisa mencintainya? Aku sungguh kejam padanya. Aku telah melukai hatinya. Aku kejam!”
          Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Rupanya pergelutan didalam dirinya terasa menyiksa. “Tapi…, apa aku kejam? Benar aku telah kejam padanya? Apa aku kejam mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya? Aniyo! Aku tidak bisa terus berpura-pura. Aku tidak mencintai minho!”
          Dengan cepat, krystal menghapus air mata yang memenuhi kelopak matanya. Kemudian tampak yeoja itu tersenyum. Lalu ucapnya lirih, “Taemin…!” suaranya terdengar penuh perasaan. Terkesan bagai diucapkan dalam perasaan melayang-layang.
          “Kamu namja yang jujur banget! Lebih dari itu, kamu juga namja yang paling tampan yang pernah aku temuin aku rasa. O ya, mian. Siang itu aku terpaksa terkesan nggak suka sama kamu. Tapi kamu sih, jujurnya disaat yang nggak tepat. Bila kamu melakukan itu saat berdua, mungkin aku akan memberimu senyum manis. Bahkan bisa juga sebuah kecupan dipipi. Kalau dibibir, hm.. entar dulu. Terus terang, meski saat aku ketus dan jutek, tapi hatiku sungguh berbunga-bunga. Aku juga tertarik sama kamu….!”
          Kini erat yeoja itu memeluk bantal guling. Sekujur tubuhnya mulai ditutupi selimut tebal, hingga tak terasa lagi hawa malam yang dingin. Senyumnya terus mengembang manis. Tapi perlahan-lahan rasa kantuk datang menghampir. Hatinya yang gelisah pun kini tenang. Akhirnya krystal menutup mata, dan terbuai dalam mimpi.
***
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar