Krystal
melangkah sendiri pulang sekolah. Terlihat langkahnya berat. Kepalanya juga
sedikit menunduk. Entah, ada apa. Tapi di otaknya, bayangan minho terus melekat.
Krystal sungguh sedih. Sudah dua hari minho terus mengindar darinya. Dan selama
itu juga dia tidak pernah bertemu dengan namja itu. Hoh…! Keluh batinnya. Itu
sungguh menyedihkan!
Krystal
kini mengangkat muka. Dia memandang kedepan. Kesenduan sejenak hilang. Berganti
senyum mengembang. Saat-saat membahagiakan bersama minho perlahan berdatangan
menguasai alam pikirannya. Diingatnya ketika pemuda itu bersenda gurau
dengannya. Penuh canda tawa. Krystal juga mengingat ketika minho tanpa
sungkan-sungkan mengandeng tangannya. Itu terjadi saat kelas mereka
bersama-sama melakukan study tour, mencari inspirasi menulis puisi. Bahkan
minho sampai menciumnya meski hanya dipipi. Itu dilakukan minho untuk member
semangat karena puisi krystal terpilih sebagai puisi terbaik. Tapi itu sudah
berlalu. Krystal menghela napas berat.
Ketika
krystal menjejaki trotoar rindang di areal taman kota, langkahnya seketika
terhenti. Dipinggir taman dibawah sebuah pohon rindang, dilihatnya minho duduk
bersandar. Pinggir taman itu juga jalur lurus trotoar yang akan dilewati
krystal. Sebab itu krystal jadi tak tahu harus bagaimana. Melanjutkan
perjalanan, dia merasa tidak enak bertemu dengan minho. Tapi sesat kemudian
akhirnya krystal melangkah. Bagaimanapun juga dia harus bertemu dengan minho.
Hubungan itu harus diperbaiki, tekadnya.
Di
samping minho terduduk, krystal berdiri tepaku dan membisu. Minho sama sekali
tidak sadar atas kedatangannya. Dia terus menatap tajam kedepa. Membisu. Hanya
napasnya terdengar mendesah.
“minho…!”
ucap krystal lirih.
Mendengar
sebuah suara lembut memanggilnya, minhoo langsung menoleh. Pertama kali yang
dia lihat hanya sepasang betis halus. Hingga seraut wajah manis ditemukannya
sudah menatap kearahnya sambil tersenyum manis. Minho segera berdiri. Lalu
dalam malu-malu ia berucap pendek, “Annyeong..!”
“apa
aku mengganggumu?”
“ah,
aniyo.”
Krystal
kembali tersenyum. Dilihatnya minho melayangkan pandanganya ketempat lain.
Krystal merasa tak nyaman. Mau berucap tapi setiap kata yang hendak diucapkan
rasanya selalu tak enak. Gadis itu terdiam jadinya.
Karena
hal itu, minho perlahan menggerakan kepalanya untuk memandang krystal. Tapi
ketika mereka saling berpandangan, minho jadi salah tingkah. Selalu senyum
tersipu, tapi terasa tidak enak dilakukan. Makanya, minho memutuskan berucap,
“kamu mau pulang, ya?”
Krystal
tak langsung menjawab. Gadis itu malah melayangkan senyum sambil mengerutkan
kening. Lalu katanya. “apa aku harus menjawab?”
“ups,
pertanyaanku bodoh banget!” minho salah tingkah. “O ya, apa kamu merasa hari
ini panas banget?”
“ne, hari ini memang panas!” balas krystal. Tapi dia tidak
mengerti kenapa minho harus menanyakan itu. “Boleh aku tahu kenapa kamu
bertanya seperti itu?”
“Kubelikan es crem, ya?”
“Hmm…, aku rasa itu bukan tawaran yang buruk, boleh juga.”
“Baiklah. Kamu tunggu disini. Aku ketoko diseberang jalan
itu dulu, aku harap kamu nggak kemana-mana sebelum aku kembali…!”
Krystal mengangguk pelan. Dia tetap tersenyum sambil
tatapan matanya terus mengikuti langkah minho.
Selepas minho pergi, dari arah trotoar yang dilewati
krystal tadi, taemin datang. Memandangi krystal duduk, taemin tersenyum. Namja
itu tampak bahagia.
“krystal …!” panggilnya begitu berada di samping tempat
yeoja itu duduk.
Krystal seketika menoleh. Seraut wajah tampan lengkap
dengan senyum manis menyambut tatapannya. Krystal mau tidak mau membalas
tersenyum. “Kau…?”
“Aku yakin, kau disini menungguku kan?’
“apa kamu bilang?!’ krystal tampak cukup keberatan. “Kamu
pikir diri kamu itu orang penting apa?!” ge’er banget!”
“mianhae, tadi aku Cuma bercanda kok, kuakui bukan kamu
yang menunggu aku, tapi aku dari gerbang sekolah tadi terus mengejar kamu.”
“kamu mengejar aku? Buat apa?”
“mianhae atas kejadian dua hari kemarin..”
“makanya jangan sok akrab! Ketemu saja belum pernah, kok
ngaku-ngaku pacar.”
“ne, aku mengaku salah. Tapi setidaknya semua yang aku
sebutkan tentang diri kamu itu benar kan?”
Krystal terdiam. Ditatapnya namja tampan yang kini sudah
duduk disampingnya itu dalam sorotan mata kejam. Benar juga kata teman-teman ,
namja ini tampan banget!” batinnya mengaku
“kumuhon….! Jangan marah karena tingkah ku yang sok kenal
kamu itu ya. Please!”
“siapa yang marah!”
“jadi…, kamu nggak marah?” duga taemin. “tapi kenapa kamu
menatapku seperti itu?”
Belum sempat krystal menjawab pertanyaannya itu, perhatian
keduanya lebih dulu terusik karena lirik lagu yang dinyanyikan dengan riang
dari kejauhan oleh minho. Keduanya langsung tersenyum melihat namja itu menuju
kearah mereka.
Langkah minho tiba-tiba terhenti saat matanya menangkap ada
namja lain duduk bersama krystal. Namja itu cukup dia kenal. Tidak salah lagi.
Itu Taemin, siswa baru yang sekelas dengannya. Kelopak matanya melebar,
sampai-sampai kedua bola matanya sedikit menjorok keluar. Minho jadi bingung
harus bagaimana. Dia terpaku dan membisu. Sementara direlung hatinya mulai
merasuk api cemburu. Terasa terus menyulut hingga dia tidak tahan menyaksikan
namja itu. Tapi sungguh disayangkan, disaat seperti itu dia tidak tahu harus
berbuat apa. Hatinya tak terhenti-henti mendesak agar dia langsung pergi saja,
namun setelah dipikir-pikir hal itu sangat sulit dilakukan. Disana ada krystal.
Tentu dia tidak mau mereka tahu, akhirnya, dalam langkah berat minho memutuskan
untuk menghampiri keduanya.
“kamu memang teman yang baik, minho.” Puji taemin menyambut
kedatangannya. “es crem ini untuk kami berdua kan?”
“ne.. kamu benar, taemin.” Desah minho. Dia segera
menyodorkan es crem yang dibawanya tadi kearah krystal dan taemin.
Taemin langsung meraih es crem itu dengan sigap, sementara
krystal menolaknya.
‘”ahh, aniyo. Minho. Kalau itu untukku, kamu mana?” kata
krystal.
“Sudah tadi ditoko. Bahkan dua bungkus!”
“Kamu nggak bohongkan?”
“Loh, kok kamu bertanya begitu sih?” baiklah coba
diingat-ingat, apa aku pernah membohongimu?”
“sudahlah, krystal..!” bujuk taemin di sela-sela menikmati
ec crem. “Ambil saja! Minho itu sahabat yang baik. Aku yakin dia nggak akan
bohong.”
Minho tersenyum kecil sambil menatap krystal. Dia
mengangguk pelan, member isyarat agar krystal menerima es crem yang dia
sodorkan. Akhirnya, krystal menerimany. Tapi dihatinya ada perasaan tidak enak.
Krystal saat itu bagai tahu apa yang sebenarnya sedang bergelut dihati namja
itu.
Kristal…” desah taemin. “kamu tahu nggak minho-lah yang
memberitahuku tentang dirimu itu. Dia mengatakan, kamu itu sungguh
menganggumkan! Mulanya aku nggak percaya. Aku nggak yakin bila ada sosok yeoja
sesempurna seperti yang disebut-sebut minho itu. Tapi setelah aku mengenalmu, aku
baru sadar dan percaya. kamu memang yeoja yang mengagumkan! Jujur kuakui, aku
tertari padamu..”
”taemin!” kata krystal agak menyentak. “kamu ngomong apaan
sih?”
Sementara minho tetap bungkam. Hanya hatinya yang terus
berteriak dan berontak.
“mian, krystal, aku hanya ingin jujur saja. Benar aku
sungguh tertarik padamu!”
“ah, sudahlah! Aku nggak mau ngomongin hal yang
nggak-nggak.”
“nggak-nggak gimana maksud kamu, krystal?” cecar taemin.
“mian,” ucap minho cepat, mendahului krystal. Minho yang
duduk disamping kiri krystal, kini bangkit. “kayaknya aku harus duluan deh!”
Krystal segera mendongak menatap tajam mata minho, krystal
memang sedang sensitive.
“kenapa harus terburu-buru?” Tanya krystal agak ketus.
Minho melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan
tangannya.
“Mian, aku harus segera sampai dirumah!” tutur minho sambil
langsung melangkah terburu-buru tidak menghiraukan teguran taemin dan krystal.
Minho berjalan dalam perasaan yang terluka.
“kira-kira minho kenapa ya?” desah taemin lirih. Matanya
terus mengikuti langkah minho pergi.
“mian, taemin. Aku juga harus segera tiba dirumah.” Ucap
krystal tiba-tiba. Belum sempat taemin menanggapinya, krystal sudah bangkit dan
melangkah tergesa-gesa.
Menyaksikan semua itu, taemin hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mengerti.
***
Minho menarik napas dalam-dalam berusaha melenyapkan rasa
gundah yang bersarang di hatinya. Seketika ia bangkit lalu melangkah
menghampiri jendela. Cukup pelan tangannya mendorong daun jendela, membukanya.
Angin masih terasa berdebu langsung menyambut. Tapi halus angin itu menerpanya
di sela-sela daun telinga angin terdengar mendesir, dan mengibas rambutnya yang
lurus. Perlahan sorotan matanya terlayang menyapa sekeliling luar rumah. Dan
lampu taman rumah ternyata sungguh menarik perhatiannya. Seolah pada pijaran cahaya
lampu, jelas terlihat seraut wajah manis krystal. Saat itu minho mencoba
mencari ketenanga.
Tanpa terasa angan telah terbang membawa alam sadarnya.
Diingatnya saat dirinya bergembira ria bersama krystal . dia mengingat sejak
pertama kali mereka bertemu. Itu terjadi satu setengah tahun yang lalu. Tapi
yang paling mengesankan ketika merreka study tour. Saat itu minho mencium
krystal. Sungguh kejadian yang membahagiakan. Juga pertama kali dia alami dan
mulai saat itu, dia merasa benar-benar telah jatuh cinta pada krystal.
Minho tersenyum sesat. Perlahan dia mendongakan kepala,
menatap langit malam yang cerah. Sayang sekali malam itu bukan malam bulan
purnama, hingga yang tampak hanya bintang-bintang yang berkedip-kedip.cukup
lekat namja itu menyorot, seakan disana tujuan hatinya terlukis kekal.
Sementara desah napasnya yang halus penuh perasaan terus menghiasi malam yang
semakin sunyi. Bagaikan hendak mengaduka segenap rasa luka yang sedang
bersarang di seluruh relung hatinya pada kesunyian malam dan benda-benda langit
itu. Minho berusaha menenangkan diri dari suasana patah hati.
HP-nya meandering tiba-tiba. Bunyi deringan itu seketika
memecahkan kesunyian dan kebisuan suasana. Karena hal itu, minho cukup
tersentak. Kemudian segera dia beranjak dari jendela, menuju meja tempat Hpnya
tergeletak.
“yoboseo…, ini siapa?”
“Aku, minho. Sulli”
“eee.., kamu
rupanya. Ada apa?”
“aku dan krystal akan melihat – lihat pameran lukisan di
gedung kesenian besok. Apa kamu bisa ikut menemani kami?’
“Hmm, jam berapa?”
“Acaranya akan dimulai jam empat sore, tapi kita berangkat
tiga puluh menit sebelum waktu itu. Kamu bisa kan?”
“ne. Aku bisa.”
“baiklah. Sampai besokya. Bila pingin tahu lebih lanjut,
besok kita bicarakan disekolah. O ya, cepat tidur! Yakinlah sang bidadari alias
krystal pasti hadir dalam mimpimu. Selamat bermimpi basah, hehehe!” setelah
mengucapkan itu, suara sulli tidak terdengar lagi.
“Gomawo, sahabat!” ucap minho setelah sejenak tertegun.
“aku juga terus mengharapkan hal itu…”
Kemudian minho kembali menaruh Hpnya di meja. Dia melangkah
menuju jendela. Jendela langsung ditutup pelan, lalu dia bergegas menghampiri
ranjang. Didekat ranjang baru dia sadar betapa pegal sekujur tubuhnya. Minho
merebah, terlentang memeluk bantal. Tidak beberapa lama kemudian, namja itu
akhirnya menutup mata.
***
Sementara
itu didalam kamarnya, krystal ternyata tidak bisa tidur. Setiap kali dia
mencoba memejamkan mata, bayangan wajah minho terus saja mengampirinya.
Dikesunyian malam itu, dirinya bagai merasa namja itu mendatanginya. Terus
menarik-narik selimutnya saat dia menutup sekujur tubuhnya. Krystal memeluk
bantal guling. Mulanya rasa bersalah datang merasuki, tapikini mulai ada
kerinduan yang menyelimuti. Namun semua itu lenyap dalam sekejap saat bayangan
wajah taemin berdatangan.
Tetap saja yeoja itu resah dan gelisah. Kegundahan itu
tampak dari sekujt tubuhnya tang tak bisa diam merebah dikasur. Kedua wajah
namja itu kini seakan masing-masing menguasai dirinya. Krystal mencoba
membandingkan keduanya. Tapi ternyata sungguh sulit dia mendapatkan suatu
keputusan, siapa salah satu yang lebih dari mereka. Keduanya memiliki kelebihan
masing-masing, siapa yang harus dipilih?
“Hoh…!” desah krystal. “Aku harus bagaimana?” cinta minho
padaku sungguh besar. tidak usah diragukan lagi ketulusannya. Tapi aku heran,
kenapa sih aku nggak bisa mencintainya? Aku sungguh kejam padanya. Aku telah
melukai hatinya. Aku kejam!”
Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Rupanya pergelutan
didalam dirinya terasa menyiksa. “Tapi…, apa aku kejam? Benar aku telah kejam
padanya? Apa aku kejam mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya? Aniyo! Aku
tidak bisa terus berpura-pura. Aku tidak mencintai minho!”
Dengan cepat, krystal menghapus air mata yang memenuhi
kelopak matanya. Kemudian tampak yeoja itu tersenyum. Lalu ucapnya lirih,
“Taemin…!” suaranya terdengar penuh perasaan. Terkesan bagai diucapkan dalam
perasaan melayang-layang.
“Kamu namja yang jujur banget! Lebih dari itu, kamu juga
namja yang paling tampan yang pernah aku temuin aku rasa. O ya, mian. Siang itu
aku terpaksa terkesan nggak suka sama kamu. Tapi kamu sih, jujurnya disaat yang
nggak tepat. Bila kamu melakukan itu saat berdua, mungkin aku akan memberimu
senyum manis. Bahkan bisa juga sebuah kecupan dipipi. Kalau dibibir, hm.. entar
dulu. Terus terang, meski saat aku ketus dan jutek, tapi hatiku sungguh
berbunga-bunga. Aku juga tertarik sama kamu….!”
Kini erat yeoja itu memeluk bantal guling. Sekujur tubuhnya
mulai ditutupi selimut tebal, hingga tak terasa lagi hawa malam yang dingin.
Senyumnya terus mengembang manis. Tapi perlahan-lahan rasa kantuk datang
menghampir. Hatinya yang gelisah pun kini tenang. Akhirnya krystal menutup
mata, dan terbuai dalam mimpi.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar