Sabtu, 09 Maret 2013

FF/Sorry I love You/Chapter 3


***

          Pagi datang menjelang. Satu persatu para siswa datang memasuki gerbang sekolah. Hawa tidak begitu dingin, sebab hari cukup cerah. Krystal berjalan menelusuri teras-teras kelas dalam langkah pasti. Hari itu dia cukup riang dan bersemangat. Dari bibirnya terus terlempar semburat senyum manis, menandakan yeoja itu bahagia. Krystal langsung memasuki kelasnya, menuju bangku tempat duduknya. Tas penuh isi yang tergantung dibahuny, dia masukkan kedalam ruang meja. Yeoja itu tak langsung keluar, melainkan dia duduk dibangku dan termenung dalam senyum mengembang.
          Dia melamunkan kejadian nanti sore. Tentu akan sangat membahagiakan. Melihat pameran lukisan bersama namja sekeren Taemin. Sambil tersenyum dalam lamunan, beberapa kali dia menggelengkan kepala. Tanpa dia sadari sulli sudah berada didekatnya. Yeoja itu berdiri terpaku memandangi sahabatnya dalam tatapan tidak mengerti. Yang dia tahu krystal saat itu sedang melamun.
          “Annyeongl!” sapa sulli sambil menggoyangkan tubuh krystal.
          “Ha?!” cukup tersentak krystal karena hal itu.
          “Ih…, kamu! Ngerusak kebahagian orang saja. Coba kalau aku jantungan, ulah kamun itu bisa-bisa membunuhku, tahu!”sambung krystal cukup ketus.
          “mian. Habisnya kamu sih, pagi-pagi udah ngelamun! Kamu tahu nggak, tadi aku ngeliat kamu itu kaya orang gila.”
          “Heh!!  Apa nggak ada kata yang lebih baik dari kata itu?!” sentak krystal tampak keberatan. “Menyebut orang yang nggak-nggak aja.”
          “Duh, marahnya…!”
          “Nggak lucu, tahu!”
          Ne, mian. Tapi…, bisa nggak aku tahu tadi kamu lagi ngelamunin apaan sih? Kelihatannya bahagia banget!”
          “Ah, sudah! Kamu nggak perlu tahu!”
          “Duh, krystal..! please, deh!” rengek sulli meminta maaf.
          “Aniyo!” sambut krystal tetap ketus.
          “Kryatal…! Desah sulli mengeluh. “Ok. Berhubung nanti kan, giliran kamu neraktir aku. Tapi bila kamu maafin aku dan cerita padaku, aku janji nanti aku yang teraktir kamu! Gimana?”
          Krystal menolah kearah sulli. Senyum kini mengembang. “Janji…?”
          “Ne, aku janji!”
          Setelah mendengar kata terakhir sulli itu, krystal tiba-tiba terbahak-bahak. Suaranya renyah terdengar. Menyaksikan tingkah krystal itu, sulli mengerutkan kening tidak mengerti.
          “Loh, kok kamu ketawa sih?” Tanya sulli. “Apa ada yang lucu?”
          “Nggak ada yang lucu. Cuma kamu yang ketipu!”
          “Maksud kamu?”
          “Tadi…., tadi aku hanya berpura-pura, ha ha ha…,” Krystal masih tertawa. “Tapi…, gimana pun kamu harus meneraktir aku nanti. Kamu kan sudah janji.
          “Huh, kamu nggak bisa mungkir! Ingat, janji itu adalah hutang!”
          “Ne, aku nanti mentraktir kamu! Puas!”
          “Jangan marah begitu dong…! Bila kamu marah terus, aku nggak akan cerita!”
          “Eh…, sebentar! Sebentar!” sahut sulli cepat. “Baik, aku nggak akan marah lagi/ ayo, sekarang cerita…!”
          “Tadi…, aku lagi ngebayangin betapa indahnya suasana sore ini. Betapa indahnya jalan-jalan melihat-lihat pameran lukisan bersama taemin…”
          “Bersama taemin?!” tampak cukup tersentak sulli. “Maksud kamu? Apa kamu udah ngajak namja itu?”
          “ne, sull. Aku mengajak taemin menemani kita.”
          “Kenapa kamu mengajak Taemin?”
          “Loh, kok kamu bertanya begitu sih? Apa aku salah?”
          Sulli jadi terdiam. Dia menghela napas panjang. Kemudian yeoja itu berucap dengan suara parau, “Aku nggak tahu lagi harus mengatakan apa padamu, Krys. Aku heran banget sama kamu!”
          “Apa maksud kamu berkata begitu?’
          “Kamu memintaku agar membantu kamu untuk memperbaiki hubungan kamu dengan minho, tapi ketika aku merasa sudah ada cara untuk memperbaikinya, kamu selalu merusak semuanya.”
          “Sebentar! Aku masih belum mengerti!”
          “Semalam aku menelpon minho. Aku mengajaknya menemani kita nanti sore…”
          “apa?!” Krystal cukup tesentak mendengarnya. Kelopak matanya melebar. “Kenapa kamu nggak bilang dulu padaku, akan mengajak minho? Apa dia setuju?”
          “Suaranya terdengar sungguh bersemangat menerima ajakan itu.”
          “Duh…, Gimana nih…!”
“Aku nggak bisa lagi berbuat apa-apa, krys. Kini tergantung pada kamu.”
“Apa kamu bilang?!” sekarang kamu pingin lepas tangan?!”
“Bukan begitu. Tapi coba kasih tahu, aku harus melakukan apa lagi..!”
“Ne…, kamu juga harus memikrkannya…”
          Bel tanda pelajaran hari itu akan dimulai akhirnya berdentam. Para siswa dan siswi mulai memasuki kelas masing-masing, tak ketinggalan teman-teman sekelas krystal dan sulli. Perbincangan mereka jadi terhenti karena keriuahan kelas ulah para murid. Krystal dan sulli terdiam. Mereka tampak berpikir, harus berbuat apa…
***
          Suasan kantin selalu saja ramai bila waktu istirahat tiba. Mereka mengambil tempat dipojok kantin. Kebisuan masih menyelimuti mereka. Krystal dan tutik terus berpikir.
          “Sulli…!” sahut krystal memecahkan kebisuan itu. “Gimana bila kita batalin aja?”
          “Nggak bisa. Kapan lagi kita bisa mendapatkan kesempatan melihat-lihat pameran lukisan. Pokoknya nggak!”
          Kedua yeoja itu kembali diam membisu.
Pramusaji kantin datang membawa pesanan mereka. Krystal dan sulli segera meraih gelas yang sudah dipenuhi jus jeruk, meneguknya.
          “Annyeong,….! Aku cari kemana-mana, rupanya kamu disini..”
          Karena ucapan itu, krystal dan sulli berehenti menikmati makanan. Mereka meneguk kembali jus jeruk. Lalu perhatian mereka tertuju pada asal suara. Kedua yeoja itu langsung mengerutkan kening mereka tidak suka, begitu tahu siswa yang menyapanya siapa. Rupanya itu key siswa yang terkenal badung, diringi onew.
          “Aku rasa kami nggak punya urusan dengan kamu…,” sambut krystal
          “Kita memang nggak punya urusan. Tapi sebentar lagi kita pasti akan punya urusan.”
          “Kamu kira kami mau berurusan dengan kamu?!” sulli agak menyentak. “Lebih baik kamu pergi!”
          “Tenanglah, cantik..! jangan marah dulu! Kamu tahukan, orang yang suka marah itu cepat tua?”
          “Heh! Apa peduli kamu?” sergah sulli.
          ‘Tentu aku sangat peduli. Cukup disayangkan kan, kecantikan kamu itu?”
          “Ah, sudahlah! Lebih baik segera katakana apa maksud kamu. Kemudian segera kalian pergi! Kami nggak tahan dengan tampang kalian itu.”
          “Baik. Aku mencari-cari kalian atas permintaan jonghyun.”
          “Jonghyun?” ulang krystal dan sulli serempak. Mereka cukup mengenal siapa sosok namja yang disebutkan itu. Sosok namja yang merupakan pimpinan gang disekolah. Sebenarnya sih, namja itu cukup tampan, tapi sayang play boy kelas teri. Senengnya nyakiti hati yeoja-yeoja, meski mengaku belum pernah melecehkan yeoja.
          “jonghyun mau apa mencari kami?” lanjut krystal
          “Malam minggu besok, ulang tahun jonghyun. Dia sangat mengharapkan kalian datang.”
          “Apa alasanya kami harus datang?” Selidik sulli.
          “Ne…. kalau hal itu, kami nggak tahu. Dia hanya bilang, ingin membuat kalian senang…”
          “Heh! Bila hanya kepingin senang, kami nggak perlu repot-repot hadirin pesta bos kalian itu, tahu!” dengus sulli menyentak. “Kalian lebih baik pergi, sebelum aku kehabisan kesabaran!”
          “Kalau kalian habis kesabaran, memangnya kalian mau apa? Apa mau menampar, atau pingin berkelahi dengan kami? Hi hi hi…” Ledek Key.
          Krystal meraih mangkuk yang masih berisi makanan. Yeoja itu lalu berdiri dan menuangkannya dikepala key.
          Seketika namja badung itu mengepalkan tangan, hendak menghantam wajah krystal dengan tinjuan. Tapi sayang, dengan cepat minho yang baru datang menangkap dan menahannya. Secepat kilat tinjuan minho meleset memukul muka key. mulanya key dan temannya (Onew) berniat untuk melawan, namun setelah mereka tahu itu adalah minho segera niat itu ditelannya mentah-mentah. Mereka tentu tidak mau babak belur. Mereka sungguh mengenal siapa minho. Seorang namja pendiam, tapi memiliki tersimpan kekuatan dasyat. Minho itu mereka tahu seorang juara karate. Makanya, key dan onew segera pergi dari tempat itu.
          “Gwenchana?” Minho mengamati seraut wajah krystal sambil kedua tangannya memegangi dagu dan menggerak-geraki kepala yeoja itu. Minho tampak khawatir. Dia tidak ingin krystal tersakiti. Lalu kedua tanganya memegangi kedua bahu krystal. Tangan krystal diamati dengan cermat, tak ingin tangan yeoja itu terluka walau segores. Sementara krystal menatap wajahnya lekat. Baru ketika tatapan mereka beradu, segera minho menarik tangannya dari bahu krystal. “Oh, maaf…!”
          Keduanya lalu duduk, terpusat pada satu meja, dan membisu malu-malu. Sementara sulli tersenyum tipis menyaksikan tingkah kedua sahabatnya itu. Senyumnya yang terlahir lepas, sebab ada kebahagian yang merasuk dihati. Sulli senang melihat kedua sahabatnya berakting mesra. Lebih-lebih dia ingin memperbaiki hubungan mereka.
          “Hm…, gimana, Krystal?” Ucap minho akhirnya.
          “Gimana apanya?” Balas krystal.
          “Acara nanti sore jadi kan?”
          “Hm…,” krystal tak mampu member jawaban apa-apa. Yeoja itu menatap sulli.
          “Kenapa kamu menatapku?”
          Di saat itulah, Taemin datang dengan wajah riang, seraya berucap, “Rupanya kamu disini krystal. Pantas kucari kemana-mana nggak ada. O ya, nanti sore kita jadi kan lihat pameran lukisan? Duh…, aku udah nggak sabar pingin jalan-jalan sama kamu.”
          Krystal membelalakan mata mendengar hal itu. Sekilas ia ingin menoleh kearah minho, tapi dia urungkan sebab tak kuat mendapati raut wajah namja itu tak tenang. Dan memang benar. Wajah minho saat itu mengerut, sebab hati diseulut api cemburu. Ada kemarahan bersarang dilubuk batinya disertai rasa tidak suka. Hal demikian terjadi pula pada sulli.
          “kenapa wajah kalian seperti itu?” Tanya taemin heran. “Kalian baik-baik saja kan?”
          Pertanyaan itu direspon minho dengan berdiri, lalu tanpa basa-basi dia hendak berlalu pergi. Krystal semula hanya menatap tubuh minho yang berjalan menuju pintu keluar kantin dalam perasaan tak enak. Yeoja itu tidak tahu harus berbuat apa. Tapi entah ada apa, minho tiba-tiba berbalik arah, dan melangkah kembali mendekati krystal, sulli dan minho, yang masih memerangkap tubuhnya dalam tatapan tidak enak. Sesampainya ditempatnya tadi berdiri, sejenak minho terdiam. Baru setelah sekali menarik napas, dia berkata, “Hm…, nanti sore…, aku ikut dengan kalian. Mian, tadi aku sebenarnya pingin ketoilet. Kuharap kalian jangan tersinggung ya!”
          Krystal tersenyum bahagia mendengar ucapan itu. “Kamu juga ikut, minho?” Sambut taemin dengan sorot mata berbinar-binar. “Wah.., nanti sore pasti bakalan seru.”
          “Maksud kamu apa bertanya begitu?” Tanya sulli ingin tahu apa alasan namja itu berkata sambil memandangi dirinyanya.
          “Apa kamu bilang?”
          “Sudah! Sudah!” Ucap krystal. “Masalhnya sekarangkan sudah clear, jadi…, jangan buat keruh lagi. Lebih baik sekarang mari sepakati, di mana kira-kira tempat yang enak untuk kita ketemuan nanti?”
          Keempat anak muda itu langsung terdiam. Tapi kebisuan minho bukan memikirkan tempat untuk bertemu nanti, melainkan dia diam karena memikirkan hal lain. Dan itu menyangkut perasaan hati. Kamu benar, krystal. Desah batin minho. Bagimu, masalah memang sudah jelas. Sudah selesai, tapi kamu nggak pernah mau tahu kekeruhan hatiku. Kamu memang benar. Hoh…, tapi biarlah. Aku akan terus berusaha tersenyum. Meski kurasa senyum itu terakhir sampai membuat aku nggak tahan lagi siapa diriku. Aku berusaha bahagia melihat kebahagiaanmu…
          “Gimana bila ditaman kota saja” kata taemin
          “Taman kota?’ Sambut krystal dan sulli serempak.
          “Baiklah…, nanti kita ketemuan ditaman kota.” Putus krystal. “Ingat…, ketemuannya nanti harus jam setengah empat, sebab acaranya akan dimulai jam empat. Biar tidak telat!”
          Mereka akhirnya sepakat. Kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan kantin, sebab bel tanda masuk kelas bordering.
***

FF/Sorry I love You/Chapter 2

***



          Krystal melangkah sendiri pulang sekolah. Terlihat langkahnya berat. Kepalanya juga sedikit menunduk. Entah, ada apa. Tapi di otaknya, bayangan minho terus melekat. Krystal sungguh sedih. Sudah dua hari minho terus mengindar darinya. Dan selama itu juga dia tidak pernah bertemu dengan namja itu. Hoh…! Keluh batinnya. Itu sungguh menyedihkan!
          Krystal kini mengangkat muka. Dia memandang kedepan. Kesenduan sejenak hilang. Berganti senyum mengembang. Saat-saat membahagiakan bersama minho perlahan berdatangan menguasai alam pikirannya. Diingatnya ketika pemuda itu bersenda gurau dengannya. Penuh canda tawa. Krystal juga mengingat ketika minho tanpa sungkan-sungkan mengandeng tangannya. Itu terjadi saat kelas mereka bersama-sama melakukan study tour, mencari inspirasi menulis puisi. Bahkan minho sampai menciumnya meski hanya dipipi. Itu dilakukan minho untuk member semangat karena puisi krystal terpilih sebagai puisi terbaik. Tapi itu sudah berlalu. Krystal menghela napas berat.
          Ketika krystal menjejaki trotoar rindang di areal taman kota, langkahnya seketika terhenti. Dipinggir taman dibawah sebuah pohon rindang, dilihatnya minho duduk bersandar. Pinggir taman itu juga jalur lurus trotoar yang akan dilewati krystal. Sebab itu krystal jadi tak tahu harus bagaimana. Melanjutkan perjalanan, dia merasa tidak enak bertemu dengan minho. Tapi sesat kemudian akhirnya krystal melangkah. Bagaimanapun juga dia harus bertemu dengan minho. Hubungan itu harus diperbaiki, tekadnya.
          Di samping minho terduduk, krystal berdiri tepaku dan membisu. Minho sama sekali tidak sadar atas kedatangannya. Dia terus menatap tajam kedepa. Membisu. Hanya napasnya terdengar mendesah.
          “minho…!” ucap krystal lirih.
          Mendengar sebuah suara lembut memanggilnya, minhoo langsung menoleh. Pertama kali yang dia lihat hanya sepasang betis halus. Hingga seraut wajah manis ditemukannya sudah menatap kearahnya sambil tersenyum manis. Minho segera berdiri. Lalu dalam malu-malu ia berucap pendek, “Annyeong..!”
          “apa aku mengganggumu?”
          “ah, aniyo.”
          Krystal kembali tersenyum. Dilihatnya minho melayangkan pandanganya ketempat lain. Krystal merasa tak nyaman. Mau berucap tapi setiap kata yang hendak diucapkan rasanya selalu tak enak. Gadis itu terdiam jadinya.
          Karena hal itu, minho perlahan menggerakan kepalanya untuk memandang krystal. Tapi ketika mereka saling berpandangan, minho jadi salah tingkah. Selalu senyum tersipu, tapi terasa tidak enak dilakukan. Makanya, minho memutuskan berucap, “kamu mau pulang, ya?”
          Krystal tak langsung menjawab. Gadis itu malah melayangkan senyum sambil mengerutkan kening. Lalu katanya. “apa aku harus menjawab?”
          “ups, pertanyaanku bodoh banget!” minho salah tingkah. “O ya, apa kamu merasa hari ini panas banget?”
          “ne, hari ini memang panas!” balas krystal. Tapi dia tidak mengerti kenapa minho harus menanyakan itu. “Boleh aku tahu kenapa kamu bertanya seperti itu?”
          “Kubelikan es crem, ya?”
          “Hmm…, aku rasa itu bukan tawaran yang buruk, boleh juga.”
          “Baiklah. Kamu tunggu disini. Aku ketoko diseberang jalan itu dulu, aku harap kamu nggak kemana-mana sebelum aku kembali…!”
          Krystal mengangguk pelan. Dia tetap tersenyum sambil tatapan matanya terus mengikuti langkah minho.
          Selepas minho pergi, dari arah trotoar yang dilewati krystal tadi, taemin datang. Memandangi krystal duduk, taemin tersenyum. Namja itu tampak bahagia.
          “krystal …!” panggilnya begitu berada di samping tempat yeoja itu duduk.
          Krystal seketika menoleh. Seraut wajah tampan lengkap dengan senyum manis menyambut tatapannya. Krystal mau tidak mau membalas tersenyum. “Kau…?”
          “Aku yakin, kau disini menungguku kan?’
          “apa kamu bilang?!’ krystal tampak cukup keberatan. “Kamu pikir diri kamu itu orang penting apa?!” ge’er banget!”
          “mianhae, tadi aku Cuma bercanda kok, kuakui bukan kamu yang menunggu aku, tapi aku dari gerbang sekolah tadi terus mengejar kamu.”
          “kamu mengejar aku? Buat apa?”
          “mianhae atas kejadian dua hari kemarin..”
          “makanya jangan sok akrab! Ketemu saja belum pernah, kok ngaku-ngaku pacar.”
          “ne, aku mengaku salah. Tapi setidaknya semua yang aku sebutkan tentang diri kamu itu benar kan?”
          Krystal terdiam. Ditatapnya namja tampan yang kini sudah duduk disampingnya itu dalam sorotan mata kejam. Benar juga kata teman-teman , namja ini tampan banget!” batinnya mengaku
          “kumuhon….! Jangan marah karena tingkah ku yang sok kenal kamu itu ya. Please!”
          “siapa yang marah!”
          “jadi…, kamu nggak marah?” duga taemin. “tapi kenapa kamu menatapku seperti itu?”
          Belum sempat krystal menjawab pertanyaannya itu, perhatian keduanya lebih dulu terusik karena lirik lagu yang dinyanyikan dengan riang dari kejauhan oleh minho. Keduanya langsung tersenyum melihat namja itu menuju kearah mereka.
          Langkah minho tiba-tiba terhenti saat matanya menangkap ada namja lain duduk bersama krystal. Namja itu cukup dia kenal. Tidak salah lagi. Itu Taemin, siswa baru yang sekelas dengannya. Kelopak matanya melebar, sampai-sampai kedua bola matanya sedikit menjorok keluar. Minho jadi bingung harus bagaimana. Dia terpaku dan membisu. Sementara direlung hatinya mulai merasuk api cemburu. Terasa terus menyulut hingga dia tidak tahan menyaksikan namja itu. Tapi sungguh disayangkan, disaat seperti itu dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya tak terhenti-henti mendesak agar dia langsung pergi saja, namun setelah dipikir-pikir hal itu sangat sulit dilakukan. Disana ada krystal. Tentu dia tidak mau mereka tahu, akhirnya, dalam langkah berat minho memutuskan untuk menghampiri keduanya.
          “kamu memang teman yang baik, minho.” Puji taemin menyambut kedatangannya. “es crem ini untuk kami berdua kan?”
          “ne.. kamu benar, taemin.” Desah minho. Dia segera menyodorkan es crem yang dibawanya tadi kearah krystal dan taemin.
          Taemin langsung meraih es crem itu dengan sigap, sementara krystal menolaknya.
          ‘”ahh, aniyo. Minho. Kalau itu untukku, kamu mana?” kata krystal.
          “Sudah tadi ditoko. Bahkan dua bungkus!”
          “Kamu nggak bohongkan?”
          “Loh, kok kamu bertanya begitu sih?” baiklah coba diingat-ingat, apa aku pernah membohongimu?”
          “sudahlah, krystal..!” bujuk taemin di sela-sela menikmati ec crem. “Ambil saja! Minho itu sahabat yang baik. Aku yakin dia nggak akan bohong.”
          Minho tersenyum kecil sambil menatap krystal. Dia mengangguk pelan, member isyarat agar krystal menerima es crem yang dia sodorkan. Akhirnya, krystal menerimany. Tapi dihatinya ada perasaan tidak enak. Krystal saat itu bagai tahu apa yang sebenarnya sedang bergelut dihati namja itu.
          Kristal…” desah taemin. “kamu tahu nggak minho-lah yang memberitahuku tentang dirimu itu. Dia mengatakan, kamu itu sungguh menganggumkan! Mulanya aku nggak percaya. Aku nggak yakin bila ada sosok yeoja sesempurna seperti yang disebut-sebut minho itu. Tapi setelah aku mengenalmu, aku baru sadar dan percaya. kamu memang yeoja yang mengagumkan! Jujur kuakui, aku tertari padamu..”
          ”taemin!” kata krystal agak menyentak. “kamu ngomong apaan sih?”
          Sementara minho tetap bungkam. Hanya hatinya yang terus berteriak dan berontak.
          “mian, krystal, aku hanya ingin jujur saja. Benar aku sungguh tertarik padamu!”
          “ah, sudahlah! Aku nggak mau ngomongin hal yang nggak-nggak.”
          “nggak-nggak gimana maksud kamu, krystal?” cecar taemin.
          “mian,” ucap minho cepat, mendahului krystal. Minho yang duduk disamping kiri krystal, kini bangkit. “kayaknya aku harus duluan deh!”
          Krystal segera mendongak menatap tajam mata minho, krystal memang sedang sensitive.
          “kenapa harus terburu-buru?” Tanya krystal agak ketus.
          Minho melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
          “Mian, aku harus segera sampai dirumah!” tutur minho sambil langsung melangkah terburu-buru tidak menghiraukan teguran taemin dan krystal. Minho berjalan dalam perasaan yang terluka.
          “kira-kira minho kenapa ya?” desah taemin lirih. Matanya terus mengikuti langkah minho pergi.
          “mian, taemin. Aku juga harus segera tiba dirumah.” Ucap krystal tiba-tiba. Belum sempat taemin menanggapinya, krystal sudah bangkit dan melangkah tergesa-gesa.
          Menyaksikan semua itu, taemin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mengerti.
***
          Minho menarik napas dalam-dalam berusaha melenyapkan rasa gundah yang bersarang di hatinya. Seketika ia bangkit lalu melangkah menghampiri jendela. Cukup pelan tangannya mendorong daun jendela, membukanya. Angin masih terasa berdebu langsung menyambut. Tapi halus angin itu menerpanya di sela-sela daun telinga angin terdengar mendesir, dan mengibas rambutnya yang lurus. Perlahan sorotan matanya terlayang menyapa sekeliling luar rumah. Dan lampu taman rumah ternyata sungguh menarik perhatiannya. Seolah pada pijaran cahaya lampu, jelas terlihat seraut wajah manis krystal. Saat itu minho mencoba mencari ketenanga.
          Tanpa terasa angan telah terbang membawa alam sadarnya. Diingatnya saat dirinya bergembira ria bersama krystal . dia mengingat sejak pertama kali mereka bertemu. Itu terjadi satu setengah tahun yang lalu. Tapi yang paling mengesankan ketika merreka study tour. Saat itu minho mencium krystal. Sungguh kejadian yang membahagiakan. Juga pertama kali dia alami dan mulai saat itu, dia merasa benar-benar telah jatuh cinta pada krystal.
          Minho tersenyum sesat. Perlahan dia mendongakan kepala, menatap langit malam yang cerah. Sayang sekali malam itu bukan malam bulan purnama, hingga yang tampak hanya bintang-bintang yang berkedip-kedip.cukup lekat namja itu menyorot, seakan disana tujuan hatinya terlukis kekal. Sementara desah napasnya yang halus penuh perasaan terus menghiasi malam yang semakin sunyi. Bagaikan hendak mengaduka segenap rasa luka yang sedang bersarang di seluruh relung hatinya pada kesunyian malam dan benda-benda langit itu. Minho berusaha menenangkan diri dari suasana patah hati.
          HP-nya meandering tiba-tiba. Bunyi deringan itu seketika memecahkan kesunyian dan kebisuan suasana. Karena hal itu, minho cukup tersentak. Kemudian segera dia beranjak dari jendela, menuju meja tempat Hpnya tergeletak.
          “yoboseo…, ini siapa?”
          “Aku, minho. Sulli”
           “eee.., kamu rupanya. Ada apa?”
          “aku dan krystal akan melihat – lihat pameran lukisan di gedung kesenian besok. Apa kamu bisa ikut menemani kami?’
          “Hmm, jam berapa?”
          “Acaranya akan dimulai jam empat sore, tapi kita berangkat tiga puluh menit sebelum waktu itu. Kamu bisa kan?”
          “ne. Aku bisa.”
          “baiklah. Sampai besokya. Bila pingin tahu lebih lanjut, besok kita bicarakan disekolah. O ya, cepat tidur! Yakinlah sang bidadari alias krystal pasti hadir dalam mimpimu. Selamat bermimpi basah, hehehe!” setelah mengucapkan itu, suara sulli tidak terdengar lagi.
          “Gomawo, sahabat!” ucap minho setelah sejenak tertegun. “aku juga terus mengharapkan hal itu…”
          Kemudian minho kembali menaruh Hpnya di meja. Dia melangkah menuju jendela. Jendela langsung ditutup pelan, lalu dia bergegas menghampiri ranjang. Didekat ranjang baru dia sadar betapa pegal sekujur tubuhnya. Minho merebah, terlentang memeluk bantal. Tidak beberapa lama kemudian, namja itu akhirnya menutup mata.
***
Sementara itu didalam kamarnya, krystal ternyata tidak bisa tidur. Setiap kali dia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah minho terus saja mengampirinya. Dikesunyian malam itu, dirinya bagai merasa namja itu mendatanginya. Terus menarik-narik selimutnya saat dia menutup sekujur tubuhnya. Krystal memeluk bantal guling. Mulanya rasa bersalah datang merasuki, tapikini mulai ada kerinduan yang menyelimuti. Namun semua itu lenyap dalam sekejap saat bayangan wajah taemin berdatangan.
          Tetap saja yeoja itu resah dan gelisah. Kegundahan itu tampak dari sekujt tubuhnya tang tak bisa diam merebah dikasur. Kedua wajah namja itu kini seakan masing-masing menguasai dirinya. Krystal mencoba membandingkan keduanya. Tapi ternyata sungguh sulit dia mendapatkan suatu keputusan, siapa salah satu yang lebih dari mereka. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing, siapa yang harus dipilih?
          “Hoh…!” desah krystal. “Aku harus bagaimana?” cinta minho padaku sungguh besar. tidak usah diragukan lagi ketulusannya. Tapi aku heran, kenapa sih aku nggak bisa mencintainya? Aku sungguh kejam padanya. Aku telah melukai hatinya. Aku kejam!”
          Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Rupanya pergelutan didalam dirinya terasa menyiksa. “Tapi…, apa aku kejam? Benar aku telah kejam padanya? Apa aku kejam mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya? Aniyo! Aku tidak bisa terus berpura-pura. Aku tidak mencintai minho!”
          Dengan cepat, krystal menghapus air mata yang memenuhi kelopak matanya. Kemudian tampak yeoja itu tersenyum. Lalu ucapnya lirih, “Taemin…!” suaranya terdengar penuh perasaan. Terkesan bagai diucapkan dalam perasaan melayang-layang.
          “Kamu namja yang jujur banget! Lebih dari itu, kamu juga namja yang paling tampan yang pernah aku temuin aku rasa. O ya, mian. Siang itu aku terpaksa terkesan nggak suka sama kamu. Tapi kamu sih, jujurnya disaat yang nggak tepat. Bila kamu melakukan itu saat berdua, mungkin aku akan memberimu senyum manis. Bahkan bisa juga sebuah kecupan dipipi. Kalau dibibir, hm.. entar dulu. Terus terang, meski saat aku ketus dan jutek, tapi hatiku sungguh berbunga-bunga. Aku juga tertarik sama kamu….!”
          Kini erat yeoja itu memeluk bantal guling. Sekujur tubuhnya mulai ditutupi selimut tebal, hingga tak terasa lagi hawa malam yang dingin. Senyumnya terus mengembang manis. Tapi perlahan-lahan rasa kantuk datang menghampir. Hatinya yang gelisah pun kini tenang. Akhirnya krystal menutup mata, dan terbuai dalam mimpi.
***